Feeds:
Posts
Comments

unlovables

Kiamat Alia

Tanah meretak, terbelah, memisahkan Alia dengan kekasihnya, Doddy. Alia berteriak ketakutan melihat tubuh Doddy menjauh oleh retakan itu. Doddy nekad melompat ke sisi retakan Alia, tapi malang, lompatannya kurang jauh. Tubuhnya terhempas menuju kehampaan.

Alia berteriak-teriak, memanggil nama kekasihnya. Namun suaranya terendam oleh bunyi dentuman dimana-mana, badai menghebat, dan kobaran api yang menyapu seluruh tempat itu.  Baru sesaat Alia mendongakkan kepalanya untuk melihat apa yang sedang terjadi di sekitarnya, tubuhnya dalam sekejap melebur menjadi tengkorak dan abu.

Alia terjaga dengan kasar. Keringatnya telah deras membasahi tubuhnya, piyamanya dan bantalnya. Ia tersengal-sengal sejenak, termenung berusaha mengingat-ingat mimpinya. Namun gagal. Ia hanya merasa sesuatu yang buruk terjadi.

Teramat sangat buruk.

Alia bangkit dari ranjangnya dan, seperti biasa setiap pagi, meregangkan otot-ototnya. Baginya, peregangan setiap pagi, olah raga teratur, hanya mengkonsumsi makanan sehat merupakan kewajiban yang tak bisa ditawar-tawar. Ibunya yang berusia hampir 50 tahun masih tampak seperti 40 tahun gara-gara prinsipnya itu. Dan Alia bertekad untuk mengikuti jejaknya sedini mungkin.

Telepon berbunyi. Dari Doddy, kekasihnya.

“Hai, sayang,” jawab Alia.

“Hai, nanti siang free? Aku mau ngomong.”

“Bisa diatur. Dimana?”

“Taman kampus deket patung kuda, ya.”

Deg! Kilasan ingatan mimpinya hinggap mendadak. Doddy menelepon, mengajaknya untuk ketemuan di taman kampus.

“Halo? Alia?”

“Iya, emm, boleh. Boleh.”

“Oke, sampai nanti.”

Klik.

Pukul 10. Kuliah MKDU Logika. Alia tak bisa berkonsentrasi pada ajaran Dosen, meskipun ia menyukai kuliah ini. Pikirannya selalu melipir pada ingatan mimpinya. Tak bisa ditahan. Jantungnya menjadi berdebar-debar seperti ketakutan dan ia masih tak mampu mengingatnya.

“Hahahahaha….” Tawa dua mahasiswa begundal mengalihkan perhatiannya. Sang Dosen menyadari ada yang tak memperhatikan pelajaran dan melemparkan penghapus papan ke mereka.

“Keluar!”

Deg. Dua mahasiswa tak bersenda gurau sendiri, akibatnya Dosen mengusir mereka. Mimpi itu lagi. Persis sama! Mungkinkah apa yang terjadi di mimpi itu akan terjadi juga hari ini?

Pukul 12. Makan siang di kantin. Nasi capcay sudah habis, tinggal mie goreng.

Walau Alia benci makanan itu, namun ia sudah kelaparan sekali.

“Hai, Alia!” Rissa menghampirinya dan mereka makan siang bersama-sama. “….jadi cewek itu dateng ke rumah gue, ngelabrak gue,” jelas Rissa membicarakan masalahnya dengan mantannya. “Nuduh gua masih mau ngerebut si Johan. Puah! Gua bilang aja….”

“Gua dah punya cowok baru!” Alia tiba-tiba melanjutkan. “Tiga cowok! Jadi ngapain gua repot-repot ama dia!”

Rissa memandang Alia dengan heran. “Elo bisa baca pikiran sekarang?”

Mendadak, kilasan mimpi Alia tak berhenti sampai di situ, namun terus berlanjut sampai akhir. Berarti memang benar! Dunia akan kiamat hari ini! Segera ia bangkit dan berlalu, mengacuhkan Rissa yang memanggil-manggilnya keheranan.

Selagi ia berlari menuju taman kampus dekat patung kuda, Alia tak henti-hentinya bertanya pada diri sendiri, bagaimana mungkin dunia kiamat sekarang? Apa artinya ia berkuliah sekarang? 2 tahun berpacaran dengan Doddy, cinta matinya? Berolah raga teratur dan makan makanan sehat? Tak ada! Semuanya akan tertelan oleh bumi terbelah dan kobaran api! Semua ini kan hilang sia-sia, menjadi abu!

Begitu dilihatnya Doddy yang sedang berdiri menunggu, Alia segera menghampirinya.

“Doddy! Kita harus pergi dari sini!”

“Kenapa?”

“Nanti kujelaskan. Ayo!”

“Kita harus bicara dulu…”

“Gak ada waktu! Nanti saja!”

Alia menyeret-nyeret lengan Doddy. Semakin lama Alia berada di tempat ini, ia merasa tanah meretak dan bumi terbelah semakin dekat.

“Sekarang! Aku mau kita putus!”

Alia terkaget bukan kepalang. Dan sementara Doddy menjelaskan “alasan-alasannya”, Alia berharap Bumi segera meretak dan menelan cowok itu.

Namun, sialnya bagi Alia, bukan kiamat itu yang terjadi.

Memotret “Bunga”

Akan kulakukan. Demi istriku. Anak-anakku. Maafkan suamimu ini, ayahmu, yang selalu gagal. Yang jarang pulang, jarang melihat kalian, memeluk dan mencium. Maafkanlah perbuatanku ini. Kulakukan untuk kalian juga. Kamera siap. Lampu flash. Oke, tak ada jalan kembali. Hanya ini satu-satunya cara agar bisa memotretnya. Hup!

Lantai 22. Bisa kulihat melalui jendela, seseorang sedang tidur pulas di kamar itu. Entah dia perempuan atau laki-laki.

Lantai 21. Korden jendelanya tertutup. Wah, gimana ya kalau jendela “Bunga” itu juga tertutup. Ini semua akan sia-sia! Jangan pesimis dulu.

Lantai 20. Ada anak kecil berusia 7 tahunan, duduk di lantai, menggambar. Ia menengok ke arahku. Wah, mirip sekali dengan putriku yang bungsu.

Lantai 19. Pasangan bertengkar. Tak begitu jelas soal apa, tapi sempat menangkap beberapa kata diteriakkan dengan kasar, seperti nama. Rani, atau Nani.

Lantai 18. Korden tertutup. Tapi samar-samar terdengar suara ranjang berjungkat-jungkit. Ya ampun, jam satu siang? Serius loh?

Lantai 17. Byuuur! Sial! Terkena siraman air buangan. Waduh, kamera? Yaaah, basah! Mudah-mudahan masih bisa! Lantai 17 bangsat! Nanti kuhantui mereka! Oke, tiga lantai lagi. Siap-siap kamera.

Lantai 16. Perempuan berpakaian ngejreng dan berdandan menor sedang melepaskan pakaiannya. Cantik juga! Tapi, yaaah, ternyata laki-laki!

Lantai 15. Satu lantai lagi. Ini dia. Cek ISO, diafragma, shutter.

Lantai 14. Klik! Klik! Klik!

Lantai 13. Segera kulihat di layar LCD. Yak, dapat! Foto yang sempurna! Akhirnya setelah berminggu-minggu gagal terus mendekatinya, apalagi memotretnya.

Lantai 12. Orang tua “Bunga” memang protektif sekali. Tapi sebagai selebritis bertaraf internasional sudah wajar mereka menjadi incaran paparazi seperti diriku.

Lantai 11. Sejak lahir tiga bulan lalu, “Bunga” memang selalu diincar oleh paparazi seluruh dunia dan selalu gagal mengabadikannya dalam foto. Hanya aku yang bisa! Yay!

Lantai 10. Apa yang membuat “Bunga” istimewa? Entahlah! Bagiku, ini soal uang semata. Majalah dan koran seluruh dunia pasti akan membayar mahal untuk foto menakjubkan ini. Namaku akan terkenal di seluruh dunia! Bahkan mungkin aku akan menjadi incaran paparazi.

Lantai 9, 8, 7. Wah cepat sekali waktu berlalu. Hahaha, dasar pengkhayal! Biarin! Toh ini saat-saat terakhirku.

Lantai 6, 5, 4, 3. Mudah-mudahan uang hasil foto ini bisa membuat istriku dan anak-anak bahagia. Aku sayang sekali sama mereka. Dora, Vita dan Hani. Apa yang akan mereka perbuat dengan uang itu? Bagaimana masa depan mereka nantinya? Apakah Dora akan menikah lagi? Apakah Vita nanti akan menjadi dokter seperti cita-citanya? Dan Hani menjadi penari balet? Oooh, aku ingin sekali melihat mereka!

Lantai 2. Apa yang sedang kulakukan? Ini semua gara-gara “Bunga”!

Lantai 1. Kalau saja…..

Penantian

Bapak penjual kembang gula itu terus menunggu.
Bapak itu menunggu.
Penjual itu menunggu.
Bapak itu.
Penjual itu.

Itu kembang gula bapak.
Itu kembang gula penjual.
Terus.
Terus.
Menunggu.
Menunggu.

Kembang gula terus.
Bapak penjual terus.
Menunggu.
Menunggu.

Bapak penjual itu.
Bapak itu.
Penjual itu.
Kembang gula itu.

Bapak kembang gula.
Kembang gula bapak.

Terus menunggu.
Terus menunggu.
Bapak penjual itu.
Kembang gula itu.

Kembang gula.
Gula Kembang.
Terus menunggu.
Terus menunggu.

Kembang gula itu menunggu terus.
Kembang gula bapak penjual itu terus menunggu.

Aku dan Diandra

SD Manisa Luca, buku tahunan 1995, kelas 5B.

18 Juli. Hari pertama foto-foto. Tentu saja ada aku, Norma, Sita, Joanna, Elisabeth dan….Diandra, si “anak ajaib”. Sayang fotonya hitam putih. Kalo berwarna, pasti bisa kelihatan Heart milik Diandra. Aku lupa hari itu warnanya apa ya?

17 Agustus. Ah, foto-foto lagi. Sekolah ngadain lomba. Aku ikut balap karung lawan Diandra. Wah, ternyata dia gesit juga. Wajahnya kelihatan happy banget. Di foto ini jelas. Heart-nya berwarna kuning keemasan. Oh, ini ada dua orang tuanya di belakang, bersorak-sorai. Heran, kok mereka pake jas putih. Apakah mereka dokter?

31 Oktober. Halloween time! Hahaha, foto-foto gila teman-temanku. Elisabeth memakai baju balet, lengkap dengan tutu dan hulahupnya.
Norma memakai baju suster. Joanna memakai baju “Harry Porter”.  Aku lupa pake baju apa dan sialnya tak ada fotoku di sini. Sebal! Diandra tampak cantik dan manis sekali pake baju Princess. Tapi kenapa wajahnya seram begitu? Heart-nya juga berwarna merah. Apakah dia sedang marah?

10 November. Hari pahlawan. Sekolah ngadain karyawisata ke lubang buaya. Asyiiik, gak ada sekolah! Seperti biasa, foto-foto narsis di depan patung pahlawan. Dimana Diandra? Oh iya, dia gak ikut. Denger-denger sakit.

25 Desember. Natal. Ini foto perayaan besar-besaran di sekolah. Ada pohon hias tinggi banget, Sinterklas dan kurcacinya, karung hadiahnya. Huh! Aku cuman dapet kotak pensil. Jelek banget pula, ada gambar pesawat luar angkasa. Diandra dapet boneka barbie, lucuuuu banget. Tapi dia kelihatan sedih. Heart-nya juga warnanya biru.

16 Januari. Foto-foto tamasya ke puncak. Itu aku berpose di kebun teh. Seru banget. Kita semua seneng bukan main. Kecuali Diandra. Itu fotonya bareng Norma ama Joana, masih murung terus. Heart-nya masih biru. Sedih kenapa? Diandra selalu bungkam. Baru kudengar kabar bahwa orang tuanya cerai sejak bulan Desember. Huks, kasihan.

14 Februari. Warna Pink merajalela di sekolah. Guntingan karton berbentuk heart dimana-mana. Hahaha, ada fotoku pake baju serba pink. Nah, itu Diandra, foto bareng sama aku. Wah, udah hijau Heart-nya. Wajahnya juga kelihatan tenang, damai.

26 April. Yuhuuu, tamasya ke laut naik perahu. Tapi dasar bandel, aku tercebur. Semua orang panik, termasuk Diandra. Bisa kulihat Heart-nya menjadi berwarna-warni, campur aduk. Wah,  indahnya, tak kukira heart Diandra bisa seperti itu. Lalu segalanya gelap….

Diandra menyalakan lampu, merasa mendengar sesuatu di kamarnya.
Matanya terpaku pada sebuah buku tua yang tergeletak di lantai. Ia meraihnya, memandangnya tajam. Itu buku tahunan sewaktu dia
masih SD. Kenapa bisa di sini? Dengan ragu-ragu, ia mulai membukanya, halaman demi halaman. Air matanya berlinang saat memandang foto-foto masa kecilnya dulu. Oh, betapa dia merindukan masa-masa itu, sahabat-sahabatnya. Terutama dia….

Tanpa disadarinya, kalungnya yang selalu berwarna biru 15 tahun terakhir, kini perlahan-lahan berubah menjadi hijau.

Tiga anak itu, Rani, Dinda dan Sari, bergegas menyelinap keluar dari rumah masing-masing, membawa tas ransel, jaket, sepatu dan senter. Selagi kaki-kaki mereka berlari meninggalkan rumah, mata mereka sesekali memandang langit cerah tak berawan, fokus ke bulan purnama.

Akhirnya mereka akan melakukannya, pikir Rani dengan mata berkaca-kaca. Ia sudah bermimpi-mimpi ini akan terjadi.

Bagaimana kalau gagal? tanya Dinda dalam hati dengan was-was. Bagaimana kalau hanya tipuan?

Satu kilo daging dan ikan mentah. Sari hanya berharap ia  membawanya cukup. Kalo tidak, dirinyalah yang bisa dimakan sebagai gantinya.

Dinda tiba lebih dahulu di lapangan bola sekolah. Disusul oleh Sari, kemudian Rani beberapa menit kemudian. Tanpa berkata apa-apa, mereka masing-masing membuka ransel dan mengeluarkan sesuatu dari dalamnya.

Sari mengeluarkan bungkusan plastik berwarna hitam.

Rani mengeluarkan sebuah buku tua.

Dinda mengeluarkan seruling.

Waktu menunjukkan pukul 12.49. Masih sebelas menit lagi.

“Kalo bener-bener berhasil, terus gimana?” tanya Sari memecahkan
keheningan.

“Kok nanya? Menurut elo?” tanya Dinda balik.

“Tapi apa enggak terlalu kejam?”

“Terlalu kejam?” Rina merasa geram. “Rambut gua yang panjang
digunting gak beraturan. Elo dicubitin setiap hari sampe biru-biru. Si Dinda giginya sudah empat kali patah.”

“Mereka pikir anak kelas 5 itu lemah dan penakut,” sambung Dinda.
“Kita tunjukkin mereka yang sebenernya!”

Sari termenung memikirkan ini. Dirinya dan teman-temannya memang
sudah tak tahan diteror oleh anak kelas 6. Untung Rina menemukan
buku tua peninggalan kakek buyutnya. Buku yang akan memungkinkan
mereka untuk membalas dendam.

Syarat-syaratnya sebenarnya hanyalah daging mentah agar mereka
tak saling memangsa ketika berubah menjadi serigala ganas nanti.
Namun Dinda memaksa untuk bermain seruling agar lebih dramatis.
Dan Rina ingin melakukannya di bawah sinar bulan Purnama agar suasana lebih mencekam seperti di film-film. Bagi Sari, ia hanya cemas ibunya mencak-mencak gara-gara dagingnya dicuri.

Pukul 1.00 dini hari. Mereka bersiap-siap. Dinda mulai meniupkan
seruling sementara Rani dan Sari membacakan ayat-ayat di buku tua
itu.

“Padusi Naromi Hujala Ikamanu,
Jo latukama dihitusa varutelo,
Mimikani wulantiji bolakuna,
Garo Garo Garo Garooooo.”

Ayat-ayat itu dibacakan berulang-ulang. Seruling terus mengalun
dengan lirih dan menyayat hati. Lapangan bola perlahan-lahan
menjadi terang.

Sambil terus membaca dan memainkan seruling, ketiga anak itu menerawang, pelan-pelan menyadari bahwa Bulan purnama mulai
menyinarkan cahayanya ke arah mereka. Semakin terang dan terang,
menyilaukan hingga mereka terpaksa memejamkan mata.

Pukul 7.12.

Lapangan Bola tampak penuh dengan kerumunan anak-anak perempuan
kelas 6 yang siap berolah raga.

“Iiih, lucunya! Punya siapa ini?”

“Gak tau! Udah di sini dari pagi-pagi tadi. Mungkin kabur, ya?”

“Pak Kebon bilang kalo mau ambil-ambilin aja.”

“Yang putih buat gua deh. Gemesin! Kayak minta dicubitin!”

“Gua yang item, yaa. Agak berantakan sih bulu-bulunya. Tapi kalo
dibawa ke salon hewan, pasti jadi cantik.”

“Gua mau yang coklat. Tapiiii, yaah, kok giginya banyak yang
tanggal? Kenapa kamyuuu? Kasiaaan!”

Labor

Suara dan Rel Tua

Suara itu lagi. Tak bisa hilang. Selalu pada jam segini. 5.30 pagi. Meski sudah 10 tahun. Setiap hari. Membangunkanku secara kasar. Dan rasa gelisah
dan takut selalu mencengkeramku erat-erat.

Sudah tak ingat lagi rasanya bangun siang. Karena sekali aku terjaga oleh suara itu, aku takkan bisa tidur lagi. Ya Tuhan, siapa bisa? Tak peduli betapa
capainya aku. Atau hanya tertidur selama 20 menit. 5.30 teng! Seperti setruman listrik, mengaliri seluruh isi tubuhku, mengguncangkannya keras sekali. Aku akan langsung terjaga dan tetap terjaga hingga malam tiba.

Suara itu. Begitu mengerikan. Dan ingatan akan pagi itu selalu mengalir deras hingga seakan-akan aku mengalaminya lagi.

Pagi itu. Aku kabur dari rumah, tak tahan lagi oleh orang-orang tua sok mengatur. Hendak menyelundup naik kereta barang, pergi bebas berkelana. Sialnya, ayahku menyusul dan mencoba mencegahku. Aku keras
kepala, menolak tapi dia bersikeras. Aku menendangnya. Bisa kulihat tubuhnya terjatuh berguling-guling ke arah rel kereta sebelah, tepat
pada saat kereta datang menghampiri.

Suara itu. Jeritan ayahku yang panjang melengking. Terpotong kasar oleh gilasan roda-roda kereta. Namun tak hanya satu jeritan yang kudengar, namun banyak jeritan. Ratusan dan ribuan. Pria, wanita, anak kecil, kakek, nenek, menjerit serempak di telingaku, begitu keras dan membahana hingga aku merasa dunia tak lagi ada.

5.30. Teng. Setiap hari. Ribuan jeritan dari semua korban yang tewas di rel itu menghantui telingaku. Dan aku tak berdaya mencegahnya. 10 tahun. 4 bulan. 12 hari.

Namun suatu keajaiban terjadi. Pada hari ke-13, aku tak mendengarnya lagi. Untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, aku terbangun oleh sinar matahari pagi menyeruak masuk melalui jendela kamarku. Hidupku berubah drastis. Rasa gelisah, ketakutan, dan penderitaanku seperti lenyap begitu saja. Bahkan, seiring berjalannya waktu, aku sudah mulai melupakannya.

Tapi sayangnya, tak lama.

Karena kemudian kulihat berita di TV, menyatakan bahwa rel tua tersebut baru saja dibongkar dan akan dibangun sebuah Mal atau Gedung Perkantoran.

Aku bergegas menuju ke sana. Dan benarlah. Rel tua itu hilang tak berbekas. Digantikan oleh dinding-dinding seng, truk-truk berdatangan dan besi
pondasi yang mulai dipancang. Melihat ini semua, entah mengapa, aku merasa amat sedih. Hatiku terasa dirobek-robek, diinjak, dibuang dan dibakar berkali-kali. Air mataku mendadak saja menjadi deras
tak tertahankan.

Derita rasa bersalahku telah berakhir. Kini digantikan oleh derita kesedihanku yang luar biasa.

Entah berapa lama ini akan berakhir.

INT. RUMAH SASKIA – MALAM.

Saskia memandang hidangan kesukaannya. Beef fettucini with melted cheese. Chicken wings. Garlic bread. Segelas coca cola dingin.

Tangannya meraba-raba garpunya ragu-ragu.

SASKIA: Boleh, sayang?

Tak ada jawaban.

SASKIA: Kau ingin aku mati kelaparan? Aku belum makan dari siang.

Tak ada jawaban. Hanya suara decak-decak orang mengunyah di depannya.

Saskia mendesah.

SASKIA: Aku tahu kamu marah. Dan ini salah satu cara kamu menghukum aku. Tapi asal kamu tahu, aku sama sekali tak patut diperlakukan seperti ini.

Terdengar suara orang menyeruput minuman. Lalu kembali terdengar suara kunyahan.

SASKIA: Kamu pikir kamu suci? Seperti malaikat? Hah! Kalau saja ibu kamu tahu apa yang sering kamu lakukan malam-malam…

Suara kunyahan berhenti. Segalanya menjadi sunyi seketika.

Saskia langsung menjadi pucat, menyesali perkataannya.

SASKIA: Aku takkan bilang! Akan kutepati sumpahku. Aku tadi hanya asal ngomong. Maaf. Maafkan aku, sayang?

Sunyi beberapa lama.

Saskia menunduk. Tangannya ia lipat erat-erat. Sesuatu mulai menyeruak keluar dari pori-pori dahinya, menjadi bilur-bilur keringat yang menetes. Ia pejamkan mata, bersiap menerima apa pun.

Lalu decak kunyahan itu kembali terdengar.

Saskia menghembuskan napas lega. Ia menegakkan kepalanya. Matanya melirik ke untaian-untaian surga berkrim di piringnya. Lidahnya menjilati bibir entah ke berapa kali.

SASKIA: Kamu pernah berpikir kenapa aku melakukan itu? Sekali saja! Pernahkah kamu memikirkan soal kepentinganku? Keinginanku? Perasaanku?

Decak-decak itu semakin keras terdengar, seakan-akan disengaja untuk menimbun kata-kata Saskia.

Saskia tak tahan lagi. Lalu dia menggebrak meja dan berteriak,

SASKIA: Mau dibawa kemana hubungan kita ini?

Mendadak terdengar suara orang tersedak, diikuti suara orang tercekik, menggapai-gapai napas. Lalu suara kursi terjatuh dan tubuh seseorang roboh ke lantai, berdebam.

Suara orang tercekik, seperti ada sesuatu yang menyumbat kerongkongannya masih berlangsung semakin intens. Lalu akhirnya berhenti. Suasana sunyi total.

Saskia termangu memandang sosok pria yang kini terlentang tak bergerak di lantai. Napasnya turun naik. Matanya membelalak.

Beberapa saat kemudian, saat napasnya kembali tenang,  Saskia tersenyum dengan lega. Kemudian, ia segera menggapai garpu dan memakan dengan lahap.

SASKIA: Aku akan merindukan masakanmu, sayang.

Sebuah botol terjatuh dari saku sang pria dan menggelinding ke bawah meja. Di label tersebut tertera tulisan RACUN.

Pesan Tentara Tua

Mona tak pernah menyangka kedatangan seseorang setua itu di rumahnya. Ia bernama Theodore, tapi ingin dipanggil Ted. Ia mengatakan bahwa sepanjang hidupnya yang telah memasuki usia 97, ia hanya tiga kali dipanggil Theodore.

Setelah duduk di ruang tamu, Ted mengeluarkan buku tulis dari kantungnya dan membukanya. Lalu ia menanyakan apakah Mona anak dari Letnan Harrison. Mona mengiyakan. Kurang dari setengah detik kemudian, Ted langsung meledak tangisnya. Ia berkata dengan suara lirih dan letih betapa senang ia akhirnya menemukannya setelah berminggu-minggu dalam
pencarian.

Mona bertanya apakah Ted pernah berjuang bersama ayahnya. Dengan berat hati, Ted mengaku bahwa dialah yang membunuh ayahnya. Alasan ia datang kemari, bertemu dengan Mona, keluarga Harrison satu-satunya di dunia, adalah meminta pengampunan darinya. Mona hanyalah salah satu dari sekian banyak keluarga orang yang telah ia bunuh dalam Perang Dunia
II.

Masih merasa kaget, heran sekaligus takjub, Mona bertanya untuk apa dia melakukan ini.

“Karena seseorang memintanya,” jawab Ted. “Aku dulu begitu bangga dengan diriku sendiri. Menjadi pahlawan di negeriku. Dipuja-puja oleh orang-orang. Seringkali aku bercerita soal kejayaanku di medan perang pada anak-anakku, cucu-cucuku, teman-teman mereka, dan entah siapa lagi. Berulang-ulang,
tak bosan-bosannya. Siapa yang bisa bosan? Aku diangkat menjadi Jenderal kehormatan. Tiga Presiden mengundangku di makan malam penangkatan mereka. Aku bagaikan hidup di atas awan. “

Ted mengatup erat bibirnya, seakan-akan menahan tangisnya, sebelum melanjutkan.

“Lalu, seseorang mendatangiku suatu malam. Aku mengenalnya. Ia adalah ayahmu. Aku ketakutan sekali waktu itu, tapi ayahmu mengatakan tak usah takut. Ia meminta tolong padaku sebelum ajalku tiba agar pergi mencarimu dan memberi pesan kepadamu. Pesan terakhir.”

Ted menghampiri Mona dan membisikkan sesuatu ke telinganya.
Seketika itu juga, air mata Mona berlinang dan tangisnya
meledak. Sejak ia berusia 6 tahun, hanya kata-kata terakhir dari sang ayahlah yang ingin didengarnya.

“Terima kasih, Ted,” kata Mona setelah menenangkan diri. “Aku ampuni
dirimu. Dengan segenap hatiku.”

Ted tersenyum tipis, lalu bangkit berdiri dengan susah payah. “Aku harus pergi.”

“Tidak, tinggalah dulu, beristirahatlah.”

“Terima kasih, tapi…,” Ted terdiam sejenak. “Ayahmu bukan satu-satunya yang mendatangiku malam itu.”

Ted menutup bukunya dan memasukkannya ke sakunya, lalu berjalan dengan susah payah menuju pintu.

Older Posts »

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.