Tiga anak itu, Rani, Dinda dan Sari, bergegas menyelinap keluar dari rumah masing-masing, membawa tas ransel, jaket, sepatu dan senter. Selagi kaki-kaki mereka berlari meninggalkan rumah, mata mereka sesekali memandang langit cerah tak berawan, fokus ke bulan purnama.
Akhirnya mereka akan melakukannya, pikir Rani dengan mata berkaca-kaca. Ia sudah bermimpi-mimpi ini akan terjadi.
Bagaimana kalau gagal? tanya Dinda dalam hati dengan was-was. Bagaimana kalau hanya tipuan?
Satu kilo daging dan ikan mentah. Sari hanya berharap ia membawanya cukup. Kalo tidak, dirinyalah yang bisa dimakan sebagai gantinya.
Dinda tiba lebih dahulu di lapangan bola sekolah. Disusul oleh Sari, kemudian Rani beberapa menit kemudian. Tanpa berkata apa-apa, mereka masing-masing membuka ransel dan mengeluarkan sesuatu dari dalamnya.
Sari mengeluarkan bungkusan plastik berwarna hitam.
Rani mengeluarkan sebuah buku tua.
Dinda mengeluarkan seruling.
Waktu menunjukkan pukul 12.49. Masih sebelas menit lagi.
“Kalo bener-bener berhasil, terus gimana?” tanya Sari memecahkan
keheningan.
“Kok nanya? Menurut elo?” tanya Dinda balik.
“Tapi apa enggak terlalu kejam?”
“Terlalu kejam?” Rina merasa geram. “Rambut gua yang panjang
digunting gak beraturan. Elo dicubitin setiap hari sampe biru-biru. Si Dinda giginya sudah empat kali patah.”
“Mereka pikir anak kelas 5 itu lemah dan penakut,” sambung Dinda.
“Kita tunjukkin mereka yang sebenernya!”
Sari termenung memikirkan ini. Dirinya dan teman-temannya memang
sudah tak tahan diteror oleh anak kelas 6. Untung Rina menemukan
buku tua peninggalan kakek buyutnya. Buku yang akan memungkinkan
mereka untuk membalas dendam.
Syarat-syaratnya sebenarnya hanyalah daging mentah agar mereka
tak saling memangsa ketika berubah menjadi serigala ganas nanti.
Namun Dinda memaksa untuk bermain seruling agar lebih dramatis.
Dan Rina ingin melakukannya di bawah sinar bulan Purnama agar suasana lebih mencekam seperti di film-film. Bagi Sari, ia hanya cemas ibunya mencak-mencak gara-gara dagingnya dicuri.
Pukul 1.00 dini hari. Mereka bersiap-siap. Dinda mulai meniupkan
seruling sementara Rani dan Sari membacakan ayat-ayat di buku tua
itu.
“Padusi Naromi Hujala Ikamanu,
Jo latukama dihitusa varutelo,
Mimikani wulantiji bolakuna,
Garo Garo Garo Garooooo.”
Ayat-ayat itu dibacakan berulang-ulang. Seruling terus mengalun
dengan lirih dan menyayat hati. Lapangan bola perlahan-lahan
menjadi terang.
Sambil terus membaca dan memainkan seruling, ketiga anak itu menerawang, pelan-pelan menyadari bahwa Bulan purnama mulai
menyinarkan cahayanya ke arah mereka. Semakin terang dan terang,
menyilaukan hingga mereka terpaksa memejamkan mata.
Pukul 7.12.
Lapangan Bola tampak penuh dengan kerumunan anak-anak perempuan
kelas 6 yang siap berolah raga.
“Iiih, lucunya! Punya siapa ini?”
“Gak tau! Udah di sini dari pagi-pagi tadi. Mungkin kabur, ya?”
“Pak Kebon bilang kalo mau ambil-ambilin aja.”
“Yang putih buat gua deh. Gemesin! Kayak minta dicubitin!”
“Gua yang item, yaa. Agak berantakan sih bulu-bulunya. Tapi kalo
dibawa ke salon hewan, pasti jadi cantik.”
“Gua mau yang coklat. Tapiiii, yaah, kok giginya banyak yang
tanggal? Kenapa kamyuuu? Kasiaaan!”
hahaha mantra yang keren!
Hei, you got someone laughing! Eh, aku juga ketawa kok bacanya. Hehehe… ayo, jangan menyerah! Teruslah melucu!
Btw, aku suka ceritanya dan cara gambarinnya ringan ^ ^
Gyaahaha, lucu.. Lucu.. Bagian belakangnya itu sungguh lucu dan imut deh, ngebayanginnya. Aku suka ceritanyaaa
Hahaha, Thank u! Tp apa endingnya ga kejam, ya, hehehe.
Hahahaha bener-bener dark comedy deh… Tapi gw jg ketawa kok!
[...] This post was mentioned on Twitter by Hartono Sugianto, pries. pries said: Dendam Anak-Anak Purnama: http://t.co/94MNcJR [...]