Akan kulakukan. Demi istriku. Anak-anakku. Maafkan suamimu ini, ayahmu, yang selalu gagal. Yang jarang pulang, jarang melihat kalian, memeluk dan mencium. Maafkanlah perbuatanku ini. Kulakukan untuk kalian juga. Kamera siap. Lampu flash. Oke, tak ada jalan kembali. Hanya ini satu-satunya cara agar bisa memotretnya. Hup!
Lantai 22. Bisa kulihat melalui jendela, seseorang sedang tidur pulas di kamar itu. Entah dia perempuan atau laki-laki.
Lantai 21. Korden jendelanya tertutup. Wah, gimana ya kalau jendela “Bunga” itu juga tertutup. Ini semua akan sia-sia! Jangan pesimis dulu.
Lantai 20. Ada anak kecil berusia 7 tahunan, duduk di lantai, menggambar. Ia menengok ke arahku. Wah, mirip sekali dengan putriku yang bungsu.
Lantai 19. Pasangan bertengkar. Tak begitu jelas soal apa, tapi sempat menangkap beberapa kata diteriakkan dengan kasar, seperti nama. Rani, atau Nani.
Lantai 18. Korden tertutup. Tapi samar-samar terdengar suara ranjang berjungkat-jungkit. Ya ampun, jam satu siang? Serius loh?
Lantai 17. Byuuur! Sial! Terkena siraman air buangan. Waduh, kamera? Yaaah, basah! Mudah-mudahan masih bisa! Lantai 17 bangsat! Nanti kuhantui mereka! Oke, tiga lantai lagi. Siap-siap kamera.
Lantai 16. Perempuan berpakaian ngejreng dan berdandan menor sedang melepaskan pakaiannya. Cantik juga! Tapi, yaaah, ternyata laki-laki!
Lantai 15. Satu lantai lagi. Ini dia. Cek ISO, diafragma, shutter.
Lantai 14. Klik! Klik! Klik!
Lantai 13. Segera kulihat di layar LCD. Yak, dapat! Foto yang sempurna! Akhirnya setelah berminggu-minggu gagal terus mendekatinya, apalagi memotretnya.
Lantai 12. Orang tua “Bunga” memang protektif sekali. Tapi sebagai selebritis bertaraf internasional sudah wajar mereka menjadi incaran paparazi seperti diriku.
Lantai 11. Sejak lahir tiga bulan lalu, “Bunga” memang selalu diincar oleh paparazi seluruh dunia dan selalu gagal mengabadikannya dalam foto. Hanya aku yang bisa! Yay!
Lantai 10. Apa yang membuat “Bunga” istimewa? Entahlah! Bagiku, ini soal uang semata. Majalah dan koran seluruh dunia pasti akan membayar mahal untuk foto menakjubkan ini. Namaku akan terkenal di seluruh dunia! Bahkan mungkin aku akan menjadi incaran paparazi.
Lantai 9, 8, 7. Wah cepat sekali waktu berlalu. Hahaha, dasar pengkhayal! Biarin! Toh ini saat-saat terakhirku.
Lantai 6, 5, 4, 3. Mudah-mudahan uang hasil foto ini bisa membuat istriku dan anak-anak bahagia. Aku sayang sekali sama mereka. Dora, Vita dan Hani. Apa yang akan mereka perbuat dengan uang itu? Bagaimana masa depan mereka nantinya? Apakah Dora akan menikah lagi? Apakah Vita nanti akan menjadi dokter seperti cita-citanya? Dan Hani menjadi penari balet? Oooh, aku ingin sekali melihat mereka!
Lantai 2. Apa yang sedang kulakukan? Ini semua gara-gara “Bunga”!
Lantai 1. Kalau saja…..
Love this!
Menampilkan sisi lain paparazzi.
Walau menjengkelkan, mereka tetap manusia yg punya hati.
Walau dibenci tapi sebenernya kasian karena itu cuma tuntutan pekerjaan.
Dramatisnya juga dapet. Suka angle dan moment yang lo capture. Keren!
Eh out of context nih…
Di bawah posting lo kok bisa ada share this : tweet, fb…
Itu setting di mananya ya?
thx
Thank U banget, Gel! Sebenernya udah mentok jg, lalu terinspirasi ama film Million Dollar Hotel, hehehe.
Soal share tweet en fb, ujug2 aja ditawarin, terus klik yes. Entah gimana caranya.
Eeeeenggg,,, ini maksudnya dia lompat dari atas gedung terus sambil motret atau gimana, sih?
Atau dia pakai gondola (yang bisa buat bersihin kaca gedung) but turun pelan-pelan tapi trus di lantai 9,8, dst tali gondolanya putus?
Gue setuju sama Angel, suka momen-momen per lantainya.
*itu buat, bukan but..